Teknik Pengumpulan Sampel
Sampel dapat diartikan sebagai bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi. Pengukuran sampel dilakukan melalui statistik atau berdasar pada estimasi penelitian guna menentukan besarnya sampel yang diambil dalam melaksanakan penelitian suatu objek. Pengambilan besar sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang dapat menggambarkan keadaaan populasi yang sebenarnya. (Sugiyono, 2016, h. 80)
A. Pengertian Teknik
Sampling
Pengertian Teknik
sampling adalah teknik pengambilan sampel dari populasi. Sampel yang merupakan
sebagian dari populasi tersebut, kemudian diteliti dan hasil penelitian
(kesimpulan) kemudian dikenakan pada populasi (generalisasi). Secara umum, ada
dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling
yang dikenal juga sebagai probability sampling, dan sampel tidak acak atau
nonrandom samping yang dikenal juga sebagai non probability sampling. Untuk
lebih jelasnya, kita akan ulas satu per satu pada artikel ini.
Pengertian Teknik
Sampling Menurut Ahli
1. Sugiono (2001)
Pengertian teknik
pengambilan sampel menurut Sugiyono, teknik sampling adalah merupakan teknik
pengambilan sampel (Sugiyono, 2001: 56).
2. Margono (2004)
Sementara pengertian
teknik pengambilan sampel menurut Margono (2004) ialah cara untuk menentukan
sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber
data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar
diperoleh sampel yang representatif.
3. Teken (1965)
Untuk semakin
memperjelas apa itu teknis sampling, Menurut Teken (1965) suatu teknik
pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat:
- Dapat menghasilkan
gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti
- Dapat menentukan
presisi (precision) dari hasil penelitian dengan menentukan simpangan baku
(standard deviation) dari taksiran yang diperoleh
- sederhana, sehingga
mudah dilaksanakan
- dapat memberikan
keterangan sebanyak mungkin, dengan biaya yang serendah-rendahnya.
B. Jenis Teknik Penentuan
Sampel
Secara garis besar metode pengambilan sampel terbagi menjadi
dua yaitu: probability sampling (random sampel) yaitu teknik
pengambilan sampel secara acak serta non-probability sampling (non-random
sampel) yaitu teknik pengambilan tidak acak.
1. Teknik Pengambilan
Acak/ Random Sample/ Probability Sampling
Sampel acak
(probability sampling) adalah cara atau teknik pengambilan sampel dimana teknik
tersebut menggunakan kaidah peluang dalam penentuan elemen sampelnya. Teknik
ini memberikan kesempatan yang sama untuk setiap elemen populasi untuk menjadi
sampel (contoh). Misalkan jika suatu populasi memiliki elemen populasi sebanyak
50 sedangkan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut
mempunyai kemungkinan 25/50 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sebagai catatan
bahwa menentukan ukuran sampel tidak dapat dilakukan sebarangan, anda perlu
mengikuti kaidah tertentu dan mengacu pada teori para ahli. Artikel berikut
dapat membantu anda menemukan referensi ukuran sampel yang tepat.
1). Pengambilan Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Sampel acak atau
probability sampling adalah suatu teknik pengambilan sampel yang menggunakan
kaidah peluang dalam proses penentuan sampel. Untuk dapat menerapkan kaidah
peluang dalam proses penentuan sampel maka diperlukan suatu kerangka sampel
(sampling frame). Kerangka sampel adalah suatu daftar yang berisi kumpulan
elemen-elemen populasi beserta informasinya. Elemen-elemen populasi dapat
berupa benda atau makhluk hidup yang bersifat nyata dan dapat diidentifikasi
untuk dijadikan objek sampel. Contoh, jika objek penelitian adalah mahasiswa
pada suatu perguruan tinggi, katakanlah perguruan tinggi A, maka dibutuhkan
suatu daftar nama mahasiswa dari perguruan tinggi beserta karakteristik yang
dibutuhkan untuk selanjutnya dilakukan penarikan sampel. Selain nama
karakteristik yang dibutuhkan bisa berupa jenis kelamin umur, tinggi badan, nim,
berat badan, nilai semester, alamat, dan lain sebagainya yang dapat bermanfaat
untuk penelitian. Bagaimana jika penelitian dilakukan di suatu desa? Maka
diperlukan kerangka sampel atau daftar yang memuat seluruh elemen populasi yang
akan diteliti di desa tersebut. Contoh ini dapat digeneralisasi untuk seluruh
kasus seperti penelitian di level Kabupaten, penelitian di suatu kantor dan
lain sebagainya. jika seluruh elemen populasi yang terdaftar di dalam kerangka
sampel dijumlahkan maka seharusnya merupakan ukuran populasi (N). Pada dasarnya
untuk menjaga agar peluang terpilihnya suatu sampel secara acak maka digunakan
tabel angka random (TAR) untuk menentukan sampel pertama. Angka yang terpilih
adalah angka dari salah suatu elemen populasi yang sudah terdaftar pada
kerangka sampel. Selanjutnya untuk menentukan sampel sampel yang akan terpilih
berikutnya digunakan metode-metode yang akan kita bahas di bawah.
Langkah-langkah memilih
sampel seharusnya mengikuti kaidah berikut:
- Siapkan kerangka sampel
- Siapkan tabel angka
random
- Menentukan metode
pemilihan sampel yang akan digunakan
2). Pengambilan Sampel
Acak Sistematis (Systematic Random Sampling)
Pengambilan sampel acak
sistematis (systematic random sampling) ialah suatu metode pengambilan sampel,
dimana hanya unsur pertama saja dari sampel dipilih secara acak, sedangkan
unsur-unsur selanjutnya dipilih secara sistematis menurut pola tertentu. Sampel
sistematis seringkali menghasilkan kesalahan sampling (sampling error) yang
lebih kecil, disebabkan anggota sampel menyebar secara merata di seluruh
propinsi. Ada pendapat bahwa pengambilan sampel dengan metode ini tidak
acak, karena yang diambil secara acak unsur pertama saja, sedangkan unsur
selanjutnya diurutkan berdasarkan interval yang sudah tertentu dan tetap.
Karena itu, untuk dapat mempergunakan metode ini, harus dipenuhi beberapa
syarat yakni (1) populasi harus besar, (2) harus teredia daftar kerangka
sampel, (3). populasi harus bersifat homogen.
Langkah-langkah
pengambilan sampel:
- Tentukan populasi dan
susun sampling frame
- Tetapkan jumlah sampel
yang akan diteliti menggunakan pertimbangan metodologis
- Tentukan K (kelas
interval)
- Tentukan angka atau
nomor awal diantara kelas interval tersebut secara acak
- Mulailah mengambil
sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih, dan nomor interval
berikutnya hingga memenuhi jumlah sampel.
3). Pengambilan Sampel Acak Berstrata (Stratified Random Sampling)
Stratified random
sampling yaitu metode pengambilan sampel yang digunakan pada populasi yang
memiliki susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Teknik ini digunakan bila
populasi memiliki anggota/unsur yang tidak bersifat homogen dan berstrata
secara proporsional sehingga setiap strata harus terwakili dalam sampel.
Langkah-langkah
pengambilan sampel:
- Tentukan populasi dan
daftar anggota populasi
- Bagi populasi
berdasarkan strata yang dikehendaki
- Tentukan jumlah sampel
dalam setiap strata
- Pilih sampel dari
setiap strata secara acak
4). Pengambilan Sampel Acak Berdasar Area (Cluster Random Sampling)
Pengambilan sampel acak
berdasarkan area atau cluster random sampling adalah salah satu metode
pengambilan sampel yang digunakan dimana populasi tidak terdiri dari
individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok individu atau cluster.
Sehingga unit yang terpilih menjadi sampel bukan individu, namun kelompok
individu yang telah tertata. Cluster sampel ini harus dipilih secara random
dari populasi cluster juga.
Teknik sampling ini
digunakan untuk penelitian mengenai suatu hal terhadap bagian-bagian yang
berbeda di dalam sebuah instansi bila objek yang akan diteliti sangat luas.
Langkah langkah :
- Tentukan populasi
cluster yang akan diteliti
- Tentukan berapa cluster
atau kelompok individu yang akan diambil sebagai sampel
- Pilih cluster sampel
secara acak
- Teliti setiap individu
dalam cluster sampel tersebut.
5). Area Sampling atau sampel wilayah Bertingkat (Multi Stage Sampling)
Multistage sampling
disebut juga sebagai teknik sampling acak bertingkat. Secara singkat,
multistage sampling adalah penggunaan beberapa metode random sampling secara
bersamaan dalam suatu penelitian secara efektif dan efisien. Dalam hal ini,
salah satu kunci yang perlu diketahui adalah adanya beberapa metode sampling
berbeda yang digunakan.
Ada beberapa syarat
yang harus diketahui dan dipenuhi sebelum menggunakan multistage sampling
sebagai teknik pengambilan sampel. Dengan terpenuhinya beberapa syarat
tersebut, maka hasil dari pengambilan sampel akan cenderung lebih maksimal.
- Populasi sample cukup
homogen
- Jumlah populasi yang
sangat besar
- Populasi menempati
daerah atau domain yang sangat luas
- Tidak tersedia kerangka
sampel yang bisa memuat unit-unit yang terkecil atau ultimate sampling unit
Untuk menerapkan
multistage sampling dalam proses pengambilan sampel, ada beberapa langkah yang
harus dilakukan. Beberapa langkah yang dimaksud diantaranya adalah sebagai
berikut:
- Menetapkan populasi
- Menetapkan tingkatan
- Menghitung besar sampel
- Mengambil secara acak
sejumlah unsur yang ada pada setiap tingkatan
- Mengambil sampel secara
acak sesuai besar sampel di tingkat terakhir
2. Teknik Pengambilan Sampel Tidak Acak/ Non- Probability Sampling / Non-Random
Sample
Kebalikan dari Teknik
pengambilan sampel secara acak, teknik non probability sampling peneliti
memilih anggota untuk penelitian secara acak. Metode pengambilan sampel ini
bukan proses seleksi tetap atau standar. Dalam teknik yang satu ini, tidak
semua elemen populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dimasukkan dalam
sampel.
Terdapat beberapa jenis
Teknik pengambilan sampel tidak acak.
1). Purposive
Sampling
Dalam teknik ini,
seorang peneliti bisa memberikan penilaian terhadap siapa yang sebaiknya
berpartisipasi di dalam sebuah penelitian. Seorang peneliti dapat secara
tersirat memilih subjek yang dianggap representatif terhadap suatu
populasi.Teknik pengambilan sampel jenis ini umumnya digunakan oleh media
ketika akan meminta pendapat dari publik mengenai suatu hal. Media tersebut
akan memilih siapa subjek yang dianggap dapat mewakili publik. Kelebihan dari
purposive sampling yaitu waktu dan juga biaya yang digunakan lebih efektif.
Sedangkan, kelemahannya ketika seorang peneliti salah memilih subjek yang representatif.
2). Snowball Sampling
Snowball sampling
adalah metode pengambilan sampel yang peneliti terapkan ketika subjek sulit
dilacak. Misalnya, akan sangat menantang untuk mensurvei orang-orang yang tidak
memiliki perlindungan atau imigran ilegal. Dalam kasus seperti itu, menggunakan
teori bola salju, peneliti dapat melacak beberapa kategori untuk mewawancarai
dan mendapatkan hasil. Peneliti juga menerapkan metode pengambilan sampel ini
dalam situasi di mana topiknya sangat sensitif dan tidak didiskusikan secara
terbuka. Hal ini dilakukan secara terus-menerus sampai dengan terpenuhinya
jumlah anggota sampel yang diingini oleh peneliti. Kelebihan dari pengambilan
beruntun ini adalah bisa mendapatkan responden yang kredibel di bidangnya.
Sementara kekurangan adalah memakan waktu yang cukup lama dan belum tentu
mewakili keseluruhan variasi yang ada.
3). Accidental Sampling
Teknik pengambilan
sampel ini ini bergantung pada kemudahan akses ke subjek seperti survei
pelanggan di mal atau orang yang lewat di jalan yang sibuk. Biasanya disebut
sebagai convenience sampling, karena kemudahan peneliti dalam melakukan dan
berhubungan dengan subjek. Peneliti hampir tidak memiliki kewenangan untuk
memilih elemen sampel, dan ini murni dilakukan berdasarkan kedekatan dan bukan
keterwakilan. Metode pengambilan sampel non-probabilitas ini digunakan ketika
ada batasan waktu dan biaya dalam mengumpulkan umpan balik. Dalam situasi
dimana terdapat keterbatasan sumber daya seperti pada tahap awal penelitian,
digunakan convenience sampling. Kelebihan dari teknik sampling ini adalah
karena pengambilan sesaat sehingga memudahkan pemilihan anggota sampel.
Kekurangan teknik ini adalah belum tentu responden memiliki karakteristik yang
dicari oleh peneliti.
4). Quota Sampling
Apabila ingin
menggunakan metode quota sampling, maka seorang peneliti harus menetapkan
standard sebelumnya. Sehingga ia bisa memilih sampel yang akan digunakan untuk
merepresentasikan populasi. Proporsi dari karakteristik yang ada dalam sampel
harus sama dengan populasi yang ada. Kelebihan dari pengambilan menurut jumlah
ini adalah praktis karena jumlah sudah ditentukan dari awal. Sementara
kekurangan dari teknik ini adalah bias, belum tentu mewakili seluruh anggota
populasi.
5). Teknik Sampel Jenuh
Teknik sampling jenuh
adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Sampling Jenuh berbeda dengan sensus karena sensus populasinya besar
sedangkan sampling jenuh menggunakan populasi yang relatif kecil meskipun
keduanya sama sama menggunakan seluruh populasi untuk dijadikan sample.
Kelebihan dari Teknik sampling jenuh adalah mudah, praktis, murah dan tidak
memerlukan waktu untuk pengumpulan data sampel. Sementara kelemahan dari Teknik
sampel jenuh adalah tidak cocok untuk populasi dengan anggotanya yang besar
sehingga hanya cocok untuk kelompok populasi kecil.
Contoh Teknik sampel
jenuh:
Misalnya akan diteliti
sebuah kinerja guru di salah satu sekolah swasta di Yogtakarta. Karena jumlah
guru hanya ada 35 maka seluruh guru dijadikan sample.
6). Sampling Sistematis
atau Systematic Sampling
Teknik sampling
sistematis merupakan teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi
baik yang berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor
identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan
sistematis lainnya. Contohnya dengan mengambil sampel dari populasi
karyawan yang berjumlah 125. Karyawan ini diurutkan dari 1–125 berdasarkan
absensi. Peneliti bisa menentukan sampel yang diambil berdasarkan nomor genap
2, 4, 6, dan seterusnya atau nomor ganjil 1, 2, 3, dan seterusnya, atau bisa
juga mengambil nomor kelipatan 2, 4, 8, 16, dan seterusnya.
C. Pemilihan Jenis Teknik Penetapan Sampel
Dalam menentukan sampel
diperlukan tahapan penetapan sampel. Tahapan yang perlu dilakukan dalam
pengambilan sampel, yaitu:
- Mendefinisikan populasi
yang akan diamati
- Menentukan kerangka
sampel dan kumpulan semua peristiwa yang mungkin
- Menentukan teknik atau
metode sampling yang tepat
- Melakukan pengambilan
sampel (pengumpulan data)
- Melakukan pemeriksaan
ulang pada proses sampling
D. Tujuan Teknik Pengambilan Sampel
- Teknik sampel yang
digunakan akan berhubungan dengan cara-cara dari pengambilan suatu sampel.
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan beberapa tujuan, diantaranya yaitu:
- Untuk mendapatkan data
yang lebih akurat, namun masih ada kaitannya dengan populasi yang menjadi
sasaran suatu penelitian.
- Bertujuan untuk
memberikan informasi yang berhubungan dengan populasi yang ingin diteliti.
- Dapat dijadikan sebagai
pedoman atau acuan didalam mengambil suatu keputusan.
Dari penjelasan di atas
dapat disimpulkan bahwa teknik sampling dibentuk sebagai cara untuk menentukan
sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber
data penelitian. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memperhatikan sifat-sifat
dan penyebaran populasi agar nantinya bisa mendapatkan sampel yang
representatif untuk penelitian lebih lanjut.
Daftar Puataka
https://penerbitdeepublish.com/teknik-pengambilan-sampel/ diposting tanggal 31 Mei 2021 dan diakses pada tanggal 2 Desember 2021 pukul 16.38
https://penerbitbukudeepublish.com/teknik-pengambilan-sampel/ diposting tanggal 31 Mei 2021 dan diakses pada tanggal 2 Desember 2021 pukul 16.45
Komentar
Posting Komentar